Tuesday, September 16, 2014

The Solemnization

Pagi yang pastinya dan ternyata berbeda. I'd be lying if I said there were no jitters. Indescribable, how hopes and fears filled the heart, how one trying to outdo another and the struggle to bring that to balance. Nearly three years and we arrived at this point. Saat sebuah perjanjian bakal termeterai. Saat sebuah amanah bakal beralih bahu. Saat sebuah tanggungjawab baru bakal perlu digalas. Saat sebuah taat bakal berubah. Saat yang haram bakal menjadi halal. Saat kenalan bakal menjadi keluarga. Saat yang mengubah. Saat yang hanya pada Tuhan aku mampu berserah, dalam harap, dalam takut.

Akad nikah was around 11.15 am August 2 2014. Barangkali cuma Tuhan yang mengerti berkocaknya rasa dalam jiwa itu bagaimana. Sitting in the hall, surrounded by dear family and friends, sungguh, tak ada wajah yang berani aku pandang. Tak ada tangan yang berani aku capai pegang. Ada yang bilang, pandanglah dia melafaz nanti. Sungguh, rasa tak termampu. Dan ayah pun mula dengan lafaz ijabnya. Dan dengan sekali lafaz, qabul. 

Entah bagaimana mahu diucap rasanya mendengar nama sendiri setelah 'Aku terima nikahnya...'. Entah bagaimana mahu diucap rasanya, terlafaznya semua itu dengan suaranya dia. Dia yang tak pernah aku sangka dipertemukan a little less than tiga tahun yang lalu. Dia yang tak pernah aku sangka akan bersila disitu, menggengam tangan ayah, mengambil sebuah amanah. Dia yang tak pernah aku sangka, akan aku setuju menjadi untuknya perempuan itu - seorang isteri.

And little did I know, lafaz penyerahan oleh wali itu ada. 

"Adalah saya dari saat ini menyerahkan tanggungjawab nafkah, perlindungan, keselamatan...". Ayah ucap satu persatu dan bicaranya terhenti disitu dan suaranya tak lagi setenang, saat menyambung "...kasih sayang dan tanggungjawab agama Islam kepada kamu sebagai suami yang sah". Sekali lagi, barangkali cuma Tuhan yang mengerti bagaimana rasanya dalam hati saat mendengar ucap ayah.

Kata teman, I was expressionless. Ketawa juga aku dengar. I think I know I was expressionless but the mind just lost the ability to decide an expression throughout the solemnization. Sungguh, di balik wajah yang tak punya ekspresi itu, ada resah yang tak termanifestasi, ada gelisah yang tak terkhabarkan, ada gembira yang tak terlahirkan, ada gementar yang tak terceritakan, ada sebak yang tak terzahir, ada tangis yang tak terlepaskan. 

Alhamdulillah. Shukr lillah. Dan jazakumullah khayr buat semua yang membantu directly or indirectly. Sampai saat ini, sudah 45 hari and counting. And me, I'm still very much learning, well I guess, forever will be. Tak ada yang lebih didamba melainkan redha serta bimbingan Dia, redha serta bimbingan dia, restu dan nasihat kedua ibubapa, doa serta tunjuk ajar dari siapa sahaja. Sungguh, cukup perlu, setiap semua itu.


Dan itu.
Salam pertama.
Dan moga salam-salam seterusnya penuh cinta, sepenuh cinta salam pertama bahkan lebih lagi.

5 comments:

Ain Fatihah said...

Qis, dah kawen?? whoaaa mabruk mabruk! upload la satu gambar husband and wife yang nampak muka. nak tengokkk! hehe

Asma Siddiqa said...

Kak qis, nak nangis baca post ni. Haha. Selamat menempuh alam perkahwinan. Semoga Allah berkati :)

mama said...

semoga sentiasa diredhaiNya :)

Anonymous said...

Ameen :D

emmayuzaima said...

tahniah qis. ;) terkilan xdpt dtg